top of page

"..And on that moment, I swear everything was infinite.”

  • Writer: Alessia Wyneini
    Alessia Wyneini
  • Mar 28, 2018
  • 2 min read

Gardika Gigih, waktu, dan ruang yang berhenti


Tidak ingat kapan tepatnya pertama kali saya mulai mendengarkan karya-karya Mas Gigih. Mungkin baru sekitar sejak 1-2 tahun yang lalu. Dan sama seperti kebanyakan pendengar yang baru mengenal Mas Gigih ketika mendengarkan karya kolaborasinya dengan Banda Neira, begitu pun saya. Hingga suatu hari ketika saya sedang mendengarkan Sampai Jadi Debu untuk yang kesekian kalinya, entah mengapa kali itu telinga saya rasanya lebih peka dan tertarik pada denting piano pengiring yang dimainkan oleh Mas Gigih. Bukan dengan lirik, bukan dengan suara mbak Rara atau mas Nanda, dan bukan dengan pikiran sendiri.


“Akhirnya saya pun penasaran dan iseng mencari nama Gardika Gigih pada google dan beruntungnya segera menemukan akun soundcloudnya. Dari situlah saya pertama kali mendengarkan Star in Us, Pada tiap Senja, dan Sore di bulan Agustus dan semakin jatuh cinta dengan karya Mas Gigih.".



Sudah Dua Hari Ini Mendung, Tenggelam, dan Dan Hujan pun telah berpuluh kali menemani saya menunggu matahari terbenam dengan syahdu sambil duduk di balkon Widelia kesayangan. Atau jika didengarkan ketika sedang gerimis rasanya denting piano Mas Gigih terasa semakin menghangatkan. Saya yang sangat suka naik kereta dan menikmati pemandangan di luar sambil mendengarkan lagu juga menetapkan Kereta Senja untuk menduduki peringkat dua sebagai salah satu soundtrack wajib dalam perjalanan naik kereta yang harus didengarkan minimal satu kali. Dan sebagai bentuk kekaguman saya terhadap semua karya beliau, juga sebagai bentuk terimakasih karena karyanya sudah menemani saya dalam banyak kesempatan, akhirnya sekitar ketika konser kecil beliau diumumkan akan digelar di IFI Jakarta saya langsung memutuskan untuk membeli tiket.


Kalau selama ini saya mendengarkan lagu-lagu mas Gigih sebatas lewat headset dan rasanya seakan sudah dapat memain-mainkan perasaan saya, sore itu saya menjadi salah satu yang beruntung untuk dapat melihat dan akhirnya mendengarkan secara langsung pertunjukkan dari karya-karya mas Gigih yang sangat indah.


"...Tidak hanya perasan saja, tetapi semua indera saya berhasil diajak untuk berinteraksi dengan setiap nada yang diciptakan mas Gigih. Pikiran saya dibawa kepada padang rumput luas, gunung berkabut, suasana rumah yang hangat, dan banyak hal yang tidak dapat saya gambarkan. Mungkin ini definisi sederhana dari telepati? bahwa sebuah karya instrumental tanpa perlu lirik panjang yang puitis namun ditulis dengan hati dan melibatkan penuh perasaan penulisnya ahirnya tetap dapat sampai kepada pendengar dengan maksud yang sama, arti yang sama, cerita yang sama, bahkan jawaban atas pertanyaan yang sama. Ketika mendengarkan salah satu improvisasi dari mas Gigih tadi saya seperti diajak untuk mengungkapkan perasaan tanpa kata-kata. Mengeluarkan semua perasaan yang tersimpan yang tidak pernah sempat diungkapkan dan yang tidak dapat dijadikan kalimat maupun bahasa."


Terimakasih pengalaman yang mungkin hanya akan saya alami sekali seumur hidup dan terimakasih sudah hadir di Jakarta, 2 Desember 2017. Tuhan memberkati mu mas Gigih.



Tangerang, 2 Desember 2017


Comments


bottom of page