top of page

One fine day at Museum Affandi

  • Writer: Alessia Wyneini
    Alessia Wyneini
  • May 31, 2018
  • 2 min read


Mengunjungi Museum Affandi, memang merupakan salah satu tujuan solo travelling saya ke Jogjakarta kali ini. Kurang lebih 20 menit dari tempat saya menginap, dengan menggunakan moda transportasi Go-Jek saya menuju Museum Affandi yang terletak dekat dengan Mal Ambarukmo Plaza di Jalan Laksda Adisucipto. Sekedar informasi, Museum Affandi dibuka pukul 09.00 s.d pukul 16.00 WIB, dan tutup pada hari libur nasional. Dan benar saja, saya tidak kecewa sama sekali setelah mengunjungi museum ini terlebih setelah diberi tur gratis langsung oleh pak Hudan yang merupakan cucu beliau. Lucky me!


Dibangung sekitar tahun 1960-an, tanah dan bangunan dari Museum Affandi ini benar-benar dibeli dan didesain sendiri oleh Affandi yang kemudian sekaligus difungsikan sebagai galeri dan tempat tinggal beliau. Sempat mendapat dukungan dan bantuan dari presiden Soeharto, akhirnya sampai kini terdapat empat bangunan galeri di dalam kawasan museum sendiri yang selain berisi ruang pamer dari lukisan beliau namun juga ruang pamer dari lukisan-lukisan hasil karya anak-anak dan cucu beliau seperti Kartika Affandi dan Rukmini Affandi.


Di ruang Galeri 1, saya pertama kali dipertemukan dengan pak Hudan yang sangat sangat sangat ramah sekali. Beliau benar-benar memberikan banyak sekali informasi dari A sampai Z mengenai Affandi dengan semangat dan tentu saja gratis hehehe. Beliau menceritakan bermacam-macam fakta yang menyegarkan bagi saya sebagai penikmat seni amatir. Mulai dari fakta bahwa Affandi selalu melukis seluruh lukisannya on the spot kemudian diselesaikan saat itu juga, jarang menggunakan kuas, dan bahwa beliau yang hanya pernah mengenyam pendidikan SMA tidak pernah mengikuti studi khusus apapun tentang seni lukis seperti kebanyakan pelukis-pelukis lainnya, yet he still rise with his talent & uniqueness. Salah satu fakta menarik lain adalah, Affandi ternyata memiliki signature tersendiri untuk menandai lukisan-lukisan yang ia anggap spesial. Jadi, jika kita menemukan lukisan Affandi di exhibition atau galeri apapun kemudian melihat lukisan kecil sebuah matahari disertai dua kaki dan dua tangan, dapat dipastikan lukisan tersebut merupakan lukisan yang Affandi anggap spesial atau memiliki cerita khusus dibalik pembuatannya.



Menjadi seorang pelukis yang memiliki keunikan gaya khas ekspresionisme yang tidak ada duanya (jika menemukan lukisan bergaya Affandi yang dibuat setelah tahun 1990 kebawah, maka dipastikan lukisan tersebut bukan karya Affandi melainkan karya anak & cucu beliau) membuat hasil-hasil karya Affandi menjadi salah satu yang dihargai sangat mahal di Indonesia bahkan seluruh dunia. Untuk lukisan termurah Affandi saja kira-kira dinilai 2 miliar rupiah sedangkan yang termahal saat ini dinilai sampai 14 miliar rupiah. Lukisan termahal tersebut adalah lukisan tentang Tiga Wanita Papua yang dilukis beliau ketika sedang mengunjungi Papua.

Bicara soal nilai lukisan, Pak Hudan menceritakan satu kisah menarik. Usut punya usut, dahulu Affandi sebenarnya bermaksud untuk belajar melukis kepada Basoeki Abdullah yang saat itu baru saja pulang sekolah melukis di Eropa. Namun, setelah tersinggung dengan salah satu ucapan Basoeki Abdullah yang secara tidak langsung menolak maksud dan tujuan Affandi, akhirnya sejak saat itu Affandi dan B. Abdullah dikabarkan memiliki hubungan yang kurang baik. Hingga pada suatu hari, salah satu konglomerat Indonesia pernah berhasil mengajak tiga pelukis kenamaan dan mahal Indonesia yaitu Basoeki Abdullah, Affandi, dan S. Soejono untuk melakukan kolaborasi seni dalam satu kanvas. Tidak ada yang tahu dimana dan bagaimana hasil masterpiece tersebut. Namun, menurut salah satu pegawai yang bekerja pada konglomerat tersebut lukisan masterpiece itu benar adanya dan berada di ruang tamu rumah sang konglomerat. Saya sih tidak berani menebak harga lukisan yang tidak dapat dibayangkan mahalnya tersebut :'D



 
 
 

Comments


bottom of page